Membangun laboratorium itu butuh presisi, keahlian, dan tim yang tepat. Salah pilih kontraktor, bisa-bisa lab Anda jadi seperti rumah makan padang tanpa rendang: terlihat lengkap, tapi kurang esensial.
Nah, biar nggak salah langkah, simak cara memilih kontraktor konstruksi laboratorium yang tepat, berpengalaman, dan terpercaya!
1. Kenali Kebutuhan Spesifik Laboratorium Anda
Sebelum cari kontraktor, jawab dulu pertanyaan ini: “Laboratorium jenis apa yang mau dibangun?”
- Lab medis butuh ruang steril dan sistem pembuangan limbah khusus.
- Lab riset kimia perlu ventilasi ekstra untuk menghindari paparan bahan beracun.
- Lab industri mungkin memerlukan lantai anti-statis dan ruang penyimpanan bahan kimia besar.
Tips:
Buat daftar kebutuhan teknis detail, seperti:
- Jenis peralatan yang akan dipasang (misalnya fume hood, biosafety cabinet).
- Standar keselamatan (BSL-2, BSL-3, atau ISO).
- Kapasitas ruang dan tata letak ideal.
Contoh Kasus:
Sebuah lab mikrobiologi di Bali gagal memenuhi standar BSL-2 karena kontraktor tidak paham kebutuhan sistem filtrasi udara. Akhirnya, renovasi ulang menghabiskan budget tambahan 30%!
2. Cari Kontraktor dengan Pengalaman di Bidang Konstruksi Laboratorium
Memilih kontraktor lab itu seperti cari dokter spesialis—bukan sekadar “bisa”, tapi harus ahli di bidangnya. Kontraktor umum yang biasa bangun rumah atau kantor mungkin kurang paham kompleksitas lab.
Ciri Kontraktor Spesialis Laboratorium:
- Portofolio Jelas: Sudah pernah bangun lab sejenis (medis/riset/industri).
- Paham Standar Teknis: Misalnya, jarak antar meja lab, instalasi listrik khusus untuk alat sensitif, atau sistem negative pressure untuk BSL-3.
- Punya Tim Ahli: Termasuk insinyur mekanikal-elektrikal (MEP) yang paham kebutuhan lab.
Pertanyaan Kunci Saat Interview Kontraktor:
- “Berapa banyak proyek lab yang sudah Anda selesaikan?”
- “Bisa tunjukkan contoh proyek dengan spesifikasi mirip kebutuhan kami?”
Saran kami:
Hindari kontraktor yang jawabannya selalu, “Bisa kami usahakan.” Kalau mereka nggak punya pengalaman, risiko trial and error bisa bikin anggaran meledak!
Baca juga: Apa Itu Laboratory Turnkey Project?
3. Periksa Portofolio dan Referensi Kontraktor
Portofolio kontraktor itu seperti review Google Maps—bisa jadi pertimbangan utama. Lakukan ini:
- Minta contoh proyek lab yang sudah mereka kerjakan (foto, video, atau kunjungi langsung).
- Cek apakah desain lab sesuai standar keamanan dan fungsionalitas.
- Hubungi klien sebelumnya untuk tanya pengalaman kerja sama.
Peringatan:
Jika kontraktor enggan kasih referensi atau portofolio, itu red flag! Bisa jadi mereka belum punya pengalaman relevan.
4. Pastikan Kontraktor Memahami Standar Keselamatan dan Regulasi
Laboratorium bukan sekadar bangunan—ia adalah zona risiko yang wajib mematuhi standar keselamatan ketat. Kontraktor yang baik harus paham ini bukan hanya di teori, tapi juga eksekusi.
Apa yang Harus Dipahami Kontraktor:
- BSL (Biosafety Level): Bagaimana mendesain lab sesuai level risiko patogen (BSL-1 hingga BSL-3).
- Sistem Ventilasi: Tekanan udara negatif, filtrasi HEPA, atau jalur udara terpisah untuk area berbahaya.
- Material Tahan Kimia: Epoxy flooring anti-korosif, dinding yang mudah didesinfeksi, atau pintu tahan api.
- Regulasi Lokal: Misalnya Permenkes No. 72/2016 atau SNI ISO 15189 untuk lab medis.
Pertanyaan Uji Pengetahuan Kontraktor:
- “Bagaimana cara Anda memastikan sistem pembuangan limbah B3 sesuai standar KLHK?”
- “Apa perbedaan desain lab BSL-2 dan BSL-3?”
Tips Tambahan:
Minta kontraktor menunjukkan sertifikat pelatihan keselamatan atau bukti kolaborasi dengan konsultan BSL.
Baca: Cara Menghemat Biaya Pembangunan Laboratorium Baru
5. Pertimbangkan Waktu Penyelesaian dan Biaya Proyek
Membangun lab itu seperti masak rendang—kalau terburu-buru, bisa gosong; kalau terlalu lama, bisa basi. Waktu dan biaya adalah dua hal krusial yang harus seimbang.
A. Timeline yang Realistis
- Kontraktor profesional wajib memberikan jadwal detail, misalnya:
- Minggu 1-4: Desain & perizinan.
- Minggu 5-12: Konstruksi struktur.
- Minggu 13-16: Instalasi peralatan & validasi.
- Tanyakan: “Apa yang terjadi jika proyek molor? Apakah ada kompensasi?”
Contoh Kasus:
Sebuah lab riset di Bogor memilih kontraktor yang menjanjikan selesai dalam 4 bulan. Ternyata, proyek molor 2 bulan karena kesalahan instalasi listrik. Hasilnya? Penelitian tertunda dan kerugian ratusan juta!
B. Biaya Transparan, Bukan Harga “Jebakan Batman”
- Hati-hati dengan kontraktor yang nawarin harga terlalu murah. Bisa jadi, mereka:
- Pakai material KW.
- Hitung ulang biaya di tengah proyek (hidden cost).
- Bandingkan 3-5 penawaran, lalu pilih yang sepadan antara harga dan kualitas.
Tips Ngirit tanpa Ngerusak Kualitas:
- Pakai desain modular: Lebih cepat & minim sampah material.
- Beli alat bekas berkualitas: Misalnya biosafety cabinet refurbished dengan garansi.
- Negosiasi paket bundling: Gabungin pembelian material dengan jasa konstruksi untuk dapet diskon.
C. Siapkan Dana Cadangan
Anggaran proyek itu seperti payung—harus ada buffer buat hujan deras. Sisihkan 10-15% dari total anggaran untuk:
- Kenaikan harga material mendadak.
- Perubahan desain karena regulasi baru.
- Biaya tak terduga seperti izin tambahan.
Contoh:
Jika total anggaran Rp 5 Miliar, siapkan Rp 500-750 juta untuk dana darurat.
6. Evaluasi Layanan Purna Jual dan Pemeliharaan
Memilih kontraktor itu bukan cuma urusan “selesai bangun, bye-bye!”. Layanan purna jual adalah jaminan bahwa lab Anda tetap aman dan berfungsi optimal.
Apa yang Harus Ditanyakan ke Kontraktor:
1. Garansi Konstruksi:
- Berapa lama garansi untuk instalasi listrik, plumbing, atau struktur bangunan?
Contoh: Garansi 1 tahun untuk perbaikan retak dinding atau kebocoran pipa.
2. Dukungan Pemeliharaan Rutin:
- Apakah mereka menawarkan paket maintenance berkala? Misalnya, cek sistem ventilasi setiap 6 bulan.
- Bagaimana respons mereka jika ada darurat, seperti listrik mati atau kebocoran gas?
3. Pelatihan Staf:
- Apakah kontraktor menyediakan pelatihan penggunaan fasilitas lab untuk tim Anda?
Tips Negosiasi:
Minta kontraktor memasukkan layanan purna jual dalam kontrak. Misalnya:
- Garansi 2 tahun untuk semua pekerjaan.
- Diskon 20% untuk paket pemeliharaan tahun pertama.
Baca: Apa Itu Biosafety Level (BSL)?
Penutup
Memilih kontraktor konstruksi laboratorium itu seperti memilih kapten kapal—harus ahli, tepercaya, dan siap menghadapi badai. Dengan tips di atas, Anda bisa menghindari proyek “setengah matang” dan memastikan lab dibangun sesuai standar, waktu, dan anggaran.



